Minggu, 07 Mei 2017

LDR sudah ada sejak Tahun 1920 | Catatan Singkat Alur Cerita Roman Balai Pustaka (Angkatan 1920)

LDR sudah ada sejak Tahun 1920 sampai sekarang masih LDR?


Roman atau Novel angaktan 1920-an yang juga dikenal dengan nama angakatan Balai Pustama memiliki ciri khas. Ciri khas novel, lebih khususnya adalah alurnya, yang saya tulis di sini adalah alur hasil penelitian intetekstualitas karya sastra angkatan 1920an dengan angkatan periode setelahnya.

Menuruti Rachmat Djoko Pradopo, Roman atau Novel angkatan 1920an memiliki ciri khas alur sebagai berikut:

LDR - Pengertian LDR dan Sejarahnya dalam Sastra Indonesia
Sumber gambar: unycommunity.com


Cerita diawali dengan pertemuan dua orang laki-laki dan perempuan sejak masih kanak-kanak. Mereka dekat dan beteman layaknya adik-kakak atau bersaudara. Kemudian setelah tumbuh dewawas mereka saling meyakini bahwa mereka saling memiliki rasa cinta. Tetapi karena masih menjaga adat atau hubungan lainnya mereka tidak saling mengungkapkan. Kemudian dua orang lelaki perempuan yang sudah saling merasa jatuh cinta ini harus berpisah karena keadaan, ada yang karena bersekolah di tempat yang jauh, ada yang harus bekeja di tempat yang jauh. Beru kemudian mereka saling menyatakan cinta melalui surat.

Yang menjadi motor dalam pola ini adalah roman Azab dan Sengsara. Hal ini karena novel ini diangap sebagai karya sastra novel pertama Indonesia. Kemudian diikuti oleh novel-novel atau roman-roman setelahnya.

Dari hubungan jarak jauh ini, bukannya bisa menyatu mereka berdua malah terpisah oleh keadaan dan adat. Ada yang dinikahkan dengan orang lain pilihan orang tuanya. Mereka (lelaki perempuan) tokoh utama biasanya tidak bisa menyatu hingga ajal menjemput.

Hampir semua roman atau novel yang terbit sekitar tahun 1920-an memiliki pola yang sama seperti itu. Baik itu Sitti Nurbaya, Di Bawah Lindungan Kaabah, maupun Kalau Tak Untung.

Variasinya hanya karena prosesnya, misalnya ada yang dekat karena menjadi teman sekolah. Ada yang dekat karena orang tuanya mengangkat anak.

Penggunaan media surat sebagai alat untuk bercerita juga sama. Selalu ada dalam roman-roman angaktan Balai Pustaka. Surat juga menjadi media ‘penting’ yang menjadi alat pengungkap cinta ketika sudah berpisah jauh, dan ketika masih dekat tidak mau mengungkapkan cinta karena malu atau karena bertolak belakang dengan adat kebiasaan.

Jadi kalau ada penulis sekarang yang masih menggunakan alur seperti ini:
Kenal – Teman – Adik Kakak-an – Berpisah – Saling mengungkapkan lewat surat (kalau sekarang mungkin dengan medsos atau chating) – LDR-an – Kemudian menyatu atau bahkan berpisah.

Ini adalah alur Novel sebelum Indonesia merdeka. Jika ada penulis yang masih menggunakan struktur alur seperti itu mungkin dia terjebak pada masa lalu. Atau karena mereka masih berpikir kolot, atau justru tidak belajar sastra. Hehehe.

Tetapi juga masih bisa dibela bahwa, Cinta itu tema yang selalu abadi. Entahlah.... yang jelas Roman-roman karya sastrawan Angkatan 1920-an juga mengangkat kisah cinta dua dunia (kaya-miskin; bangsawan-orang biasa; atau kaum terdidik-dan kaum tak terdidik).

Sekarang pun masih banyak roman picisan yang mengangkat hal seperti itu, misalnya: Sopirku Ganteng (majikan dengan sopir); dan sebagainya.


Melihat dari kecenderungan ini, jangan-jangan masih banyak sastrawan angkatan 1920 yang masih hidup dan berkaya hingga kini. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar