Senin, 03 Juli 2017

KONSEP DAN RAGAM PEMBELAJARAN AKTIF




I. KONSEP PEMBELAJARAN AKTIF
A. Pengertian Pembelajaran Aktif
Istilah pembelajaran aktif diperkenalkan oleh seorang sarjana Inggris yaitu R. W. Revans (1907-2003). Pembelajaran aktif menurut Bonwell (1991) merupakan pembelajaran yang melibarkan berpartisipasi siswa dalam proses pembelajara, di mana siswa melakukan suatu kegiatan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tidak hanya pasif mendengarkan penjelasan guru. Selanjutnya, Weltman (2012) menyatakan bahwa pembelajaran aktif adalah suatu proses belajar di mana siswa secara aktif atau berdasarkan pengalaman belajarnya terlibat aktif dalam proses belajar. Pembelajaran aktif ini berfokus pada tanggung jawab belajar siswa. Michel Prince (2004) mendefinisikan pembelajaran aktif sebagai proses belajar yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.

B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif
Barnes (1989) menekankan prinsip-prinsip pembelajaran aktif, sebagai berikut.
1. Purposive: relevan antara tugas dan tujuan pembelajaran.
2. Reflective: refleksi siswa tentang makna dari apa yang dipelajari.
3. Negotiated: tujuan dan metode pembelajaran disepakati antara siswa dan guru.
4. Critical: siswa menghargai cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5. Complex: siswa membandingkan tugas dengan kompleksitas yang ada dalam kehidupannya.
6. Situation-driven: kebutuhan terhadap situasi dipertimbangkan dalam rangka membangun tugas-tugas belajar.
7. Engaged : tantangan nyata tercermin dalam kegiatan yang dilakukan siswa dalam belajar.
C. Karakteristik
Karakteristik pembelajaran pada Kurikulum 2013 sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tetang Standar Proses, guru harus merancang proses pembelajaran sejalan dengan pembelajaran aktif dengan karakteristik berikut.
1. Pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa berperan lebih aktif dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri untuk menumbuhkan semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inspirasi, inovasi dan kemandirian.
2. Guru membimbing pengalaman belajar siswa. Guru sebagai salah satu sumber belajar memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui usaha sendiri, dapat mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan pengalaman untuk membuat suatu karya.
3. Tujuan kegiatan pembelajaran tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis namun juga untuk pencapaian kompetensi secara utuh dan seimbang.
4. Pengelolaan kegiatan pembelajaran ditekankan pada kreativitas siswa dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai kompetensi.
5. Penilaian proses pembelajaran dilakukan untuk mengukur ketercapaian kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa.
6. Pembelajaran tidak ditekankan pada penyampaian informasi namun mengutamakan keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental.
7. Suasana atau kondisi pembelajaran mendukung untuk mengembangkan keterbukaan dan penghargaan terhadap semua gagasan siswa.
8. Siswa tidak hanya mendengarkan ceramah secara pasif melainkan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran melalui aktivitas : mengamati, bertanya, diskusi, debat, membaca, membuat ringkasan, kerja kelompok, mencari informasi, observasi, melakukan penelitian, bermain peran, studi kasus, melakukan penyingkapan informasi yang belum mengemuka, menganalisis data, presentasi, membuat proyek untuk menghasilkan karya kontekstual, menyelesaikan permasalahan kontekstual dalam pembelajaran, dan sebagainya.

II. RAGAM DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN AKTIF
Beberapa bentuk pembelajaran aktif dapat disajikan sebagai berikut.
A. Diskusi Kelas
Diskusi kelas dapat diadakan secara langsung atau online. Diskusi kelas adalah sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran kelompok di mana setiap kelompok mendapat tanggung jawab untuk mendiskusikan sesuai dengan tema/masalah/judul pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru, selanjutnya mereka akan membuat kesimpulan atau catatan kecil yang berisikan tuangan pikiran atau pendapat dari kelompok tersebut, dan itu menjadi tugas sekretaris kelompok kemudian diserahkan melalui ketua kelompoknya kepada guru yang bersangkutan.
Metode diskusi pada hakikatnya berpusat pada siswa, di mana kegiatan yang dilakukan dalam
pelaksanaan diskusi yang tidak terstruktur hingga kegiataan yang terstruktur di mana guru dapat
bertindak sebagai fasilitator.
Persoalan dan masalah-masalah yang didiskusikan sesuai dengan mata pelajaran/materi pokok. Dengan diskusi maka siswa akan bekerja keras, bekerja sama untuk memecahkan masalah dengan mengajukan pendapat atau argumentasi yang tepat.
Diskusi mendorong siswa berfikir kritis pada subyek dan menggunakan logika untuk mengevaluasi posisi mereka dengan teman lain.
Beberapa manfaat menggunakan diskusi kelas sebagai rancangan pembelajaran aktif adalah membantu siswa dalam mengeksplorasi keragaman perspektif, meningkatkan kelincahan intelektual, dan menunjukkan rasa hormat terhadap pengalaman siswa, serta mengembangkan kebiasaan pembelajaran kolaboratif.
Pembelajaran aktif juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan sintesis dan integrasi. Selain itu, dengan keterlibatan guru dan siswa secara aktif, memungkinkan bagi mereka lebih siap dalam belajar dan menyadari apa yang sedang terjadi di dalam kelas.
B. Pembelajaran Berfikir Berpasangan atau Berbagi/Think Pair Share
Model pembelajaran berfikir berpasangan atau berbagi (Think Pair Share/TPS) merupakan jenis pembelajaran aktif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model pembelajaran berfikir berpasangan atau berbagi ini berkembang dari penelitian belajar koopertif. Model pembelaaran ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan koleganya di Universitas Marryland. Arends menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan proses yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berfikir, untuk merespon dan saling membantu (Trianto, 2007).
Model pembelajaran TPS merupakan salah satu model pembelajaran aktif. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran. TPS dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil.
Beberapa manfaat TPS dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, TPS juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan berpartisipasi dalam kelas.
Langkah-langkah Pembelajaran Think Pair Share
Penggunan TPS adalah untuk membandingkan tanya jawab kelompok secara keseluruhan. Langkah-langkah dalam strategi Think Pair Share (TPS) adalah sebagai berikut.
1. Berfikir (Thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau permasalahan yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta peserta didik menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. Peserta didik membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian dari berfikir.
2. Berpasangan (Pairing)
Selanjutnya guru meminta peserta didik untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan suatu msalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
3. Berbagi (Shairing)
Pada langkah akhir guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan kepasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapatkan kesempatan untuk melaporkan.
C. The Learning Cell
The learning cell ini dikembangkan oleh Goldschmid dari Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne. The learning cell merupakan salah satu teknik pembelajaran yang membantu siswa belajar dengan lebih efektif. The learning cell atau siswa berpasangan adalah suatu bentuk belajar kooperatif dalam bentuk berpasangan di mana siswa bertanya dan menjawab pertanyaan secara bergantian berdasar pada materi bacaan yang sama.
The learning cell adalah salah satu cara dari pembelajaran kelompok, khususnya kelompok kecil. Dalam pembelajaran ini siswa diatur dalam pasangan-pasangan. Salah seorang di antaranya berperan sebagai tutor, fasilitator/pelatih ataupun konsultan bagi seorang yang lain. Orang yang kedua ini berperan sebagai siswa, peserta latihan ataupun seorang yang memerlukan bantuan. Setelah selesai, maka giliran peserta kedua untuk berperan sebagai tutor, fasilitator atupun pelatih dan peserta pertama menjadi siswa ataupun peserta latihan dan seterusnya.
Langkah-langkah Teknik Pembelajaran The Learning Cell
Teknik pembelajaran the learning cell terdiri dari beberapa tahapan berikut.
1. Tahap persiapan:
a. Guru menjelaskan secara singkat teknik pembelajaran the learning cell.
b. Guru membagi siswa secara berpasangan.
c. Guru menentukan siswa yang berperan sebagai tutor
d. Siswa yang berperan sebagai tutor mempelajari, mencari dan menambah wawasan tentang materi pada sumber lain, seperti internet, buku-buku yang relevan dan lain-lain.
2. Tahap kegiatan:
a. Siswa langsung membagi diri secara berpasang-pasangan yang telah ditentukan sebelumnya.
b. Guru menjelaskan materi secara singkat.
c. Siswa tutor menjelaskan materi yang telah dia pelajari sebelumnya dari berbagai sumber.
d. Guru memantau, mengawasi dan memberikan bimbingan pada saat pembelajaran berlangsung.
e. Siswa yang lainnya menerima bimbingan, menanyakan hal-hal yang kurang dipahami kepada tutor.
f. Jika siswa dan tutor mengalami kesulitan baik secara materi maupun non materi, maka guru memberikan arahan dan bimbingan.
3. Tahap setelah kegiatan:
a. Jika masing-masing pasangan telah menyelesaikan pembahasan materi secara tuntas, guru memberikan intisari materi dan menyimpulkan materi tersebut.
b. Guru menunjuk kembali tutor, terjadi pergantian tutor (siswa yang pada awalnya sebagai tutor menjadi siswa yang dibimbing sedangkan siswa yang awalnya dibimbing berganti posisi menjadi tutor).
c. Guru kembali memberikan materi lanjutan kepada siswa.
d. Siswa yang menjadi tutor kembali melaksanakan tugasnya seperti pada bagian di atas.
e. Proses ini terus berlangsung sampai materi pelajaran selesai.
D. Short Written Exercise
Sebuah latihan tertulis singkat yang sering digunakan adalah "satu menit menulis."
Ini adalah cara yang baik untuk meninjau bahan dan memberikan umpan balik. Namun "satu menit menulis" tidak berarti siswa tidak mengambil satu menit namun siswa meringkas secara ringkat dan cepat. Siswa memiliki setidaknya 10 menit untuk bekerja pada pembelajaran ini untuk meninjau bahan, mencatat, dan mereviewnya.
E. Kelompok Belajar Kolaboratif
Penggunakan istilah kelompok belajar kolaboratif sebagai strategi pembelajaran aktif, bukan berarti pembelajaran invidual tidak dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif tidak merujuk pada jumlah siswa yang terlibat tetapi merujuk pada aktivitas siswa yang aktif dalam proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sebuah kelompok belajar kolaboratif adalah cara yang sukses dalam proses pembelajaran untuk kompetensi yang berbeda untuk kelas yang berbeda.
Dalam kelompok belajar kolaboratif, guru dapat menetapkan siswa dalam kelompok 3-6 orang dan mereka diberi tugas untuk bekerja bersama-sama. Pastikan bahwa siswa dalam kelompok memilih ketua kelompok dan pencatat agar kegiatan yang mereka lakukan tidak ke luar dari jalur. Dalam rangka  menciptakan partisipasi yang menarik dalam pembelajaran perlu ada pengaturan bagi semua siswa, seperti pengaturan kelompok, posisi tempat duduk (setting arrangement) yang sifatnya fleksibel. Pembelajaran lain seperti Group Investigation/GI dan Team Game Torunamen/TGT juga termasuk pembelajaran kolaboratif (Lampiran 3).
F. Pembelajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)
Pembelajaran ini merupakan salah satu jenis pembelajaran aktif (active learning), yaitu pembelajaran yang mengajak siswa belajar secara aktif, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikannya. Pembelajaran Sinergetik adalah metode atau strategi yang menggabungkan dua cara belajar yang berbeda. Melvin L. Silberman (2009) menjelaskan Pembelajaran Sinergetik ini merupakan metode perubahan langkah yang sesungguhnya. Metode ini memungkinkan para siswa yang memiliki pengalaman yang berbeda dalam mempelajari materi yang sama untuk saling membandingkan catatan.
Langkah-Langkah Implementasi Pembelajaran Sinergetik
Menurut Hisyam Zaini, dkk (2004) adalah sebagai berikut.
1. Bagilah kelas menjadi dua bagian.
2. Kirimkan satu kelompok ke ruangan lain untuk membaca tentang topik yang diajarkan.
3. Pastikan materi bacaan itu terformat dengan baik dan mudah dibaca.
4. Selama masa ini, berikan sebuah pelajaran yang disampaikan dengan lisan, ceramah, tentang materi yang sama kepada separuh lainnya dari kelas itu.
5. Setelah selesai mintalah siswa untuk berpasangan dengan teman yang tadi menerima pelajaran dengan cara yang berbeda. Anggota kelompok satu akan mencari kawan dari anggota kelompok dua.
6. Keduanya diminta untuk meggabungkan hasil belajar yang mereka peroleh dengan cara yang berbeda tersebut.
7. Mintalah beberapa orang untuk menyampaikan hasil belajar.
8. Mereka akan menjawab pertanyaan yang anda sampaikan.
9. Beri penjelasan untuk setiap jawaban siswa yang belum jelas.
G. Kartu Sortir (Card Sort)
Bentuk Pembelajaran Kartu Sortir ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi. Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut.
1. Masing-masing siswa diberikan kartu indeks yang berisi materi pelajaran. Kartu indeks dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/ kelompok, misalnya kartu yang berisi tentang konsep kegunungapian (vulvalogy) dan deskripsi dari masing-masing konsep kegunungapian tersebut. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.
2. Guru menunjuk salah satu peserta didik yang memegang kartu, peserta didik yang lain diminta berpasangan dengan peserta didik tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
3. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi peserta didik yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
4. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat kegiatan berlangsung.
H. Writing In The Here And Now
Bentuk pembelajaran ini memberikan kesempatan siswa untuk menuliskan pengalaman belajarnya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam melaksnakan proses pembelajaran ini sebagai berikut.
1. Informasikan kepada peserta didik tentang pengalaman yang telah dipilih untuk tujuan penulisan deskriptif.
2. Persiapkan alat berupa kertas plano atau papan tulis yang akan digunakan untuk menuliskan deskripsi pengalaman. Bangunlah dan ciptakan suasana tenang dan nyaman. .
3. Perintahkan peserta didik menulis, saat sekarang, tentang pengalaman yang telah dipilih.
4. Berilah waktu yang cukup untuk menulis. Peserta didik seharusnya tidak merasa terburu-buru. Setelah mereka selesai ajaklah mereka untuk membacakan tentang refleksinya di sini dan sekarang.
5. Diskusikan tindakan-tindakan baru yang bisa mereka lakukan di masa depan.
I. Debat Aktif (Active Debate )
Bentuk pembelajaran debat aktif (Active Debate) merupakan bentuk pembelajaran yang secara aktif melibatkan siswa di dalam kelas bukan hanya pelaku debatnya saja.
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut.
1. Siswa mengembangkan sebuah pernyataan yang berkaitan dengan materi pelajaran.
2. Membagi kelas ke dalam dua kelompok. Satu kelompok berperan sebagai kelompok “pro” dan kelompok lain berperan  sebagai kelompok “kontra”.
3. Masing-masing kelompok menentukan para juru bicara yang bertindak sebagai pelaku debat.
Selanjutnya mempersiapkan kursi untuk para juru bicara pada kelompok yang pro dan kontra. Siswa yang lain duduk di belakang juru bicara. Memulai debat dengan para juru bicara mempresentasikan pandangan mereka. Proses ini disebut argumen pembuka.
4. Setelah mendengar argumen pembuka, siswa menghentikan debat dan kembali ke kelompok masing-masing untuk mempersiapkan argument yang menanggapi argument pembuka dari kelompok lawan. Setiap kelompok memilih juru bicara yang baru (lain).
5. Melanjutkan kembali debat. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk memberikan argumen sanggahan (counter argument). Ketika debat berlangsung, peserta yang lain didorong untuk memberikan catatan yang berisi usulan argumen atau bantahan.
6. Meminta mereka untuk bersorak atau bertepuk tangan untuk masing-masing argumen dari para wakil kelompok.
7. Mengakhiri debat pada saat yang tepat. Memastikan bahwa kelas terintegrasi dengan meminta mereka duduk berdampingan dengan mereka yang berasal dari kelompok lawan mereka
8. Menyampaikan point-point penting dari debat tersebut dan menghubungkan dengan materi pelajaran.
J. Pembelajaran Model Jigsaw (Jigsaw Learning)
Bentuk pembelajaran ini merupakan bentuk pembelajaran yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain. Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut.
1. Pilihlah materi pelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian (segmen).
2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 30 orang sementara jumlah segmen ada 5, maka ada 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri atas 5 orang..
3. Setiap anggota kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda.
4. Setiap kelompok mengirimkan anggota-anggotanya ke kelompok baru sesuai dengan tugas yang harus diselesaikan untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompok awal.
5. Setelah masing-masing kelompok baru menyelesaikan tugas, masing-masing anggota kelompok kembali ke kelompok awal. Tanyakan apabila sekiranya ada persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
6. Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.
K. Menilai Kelas (Assessment Search)
Bentuk pembelajaran ini dapat dilakukan dalam waktu yang cepat dan sekaligus melibatkan siswa untuk saling mengenal dan bekerjasama. Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
1. Buatlah tiga atau empat pertanyaan untuk mengetahui kondisi kelas, pertanyaan tersebut dapat berupa:
- pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran
- sikap mereka terhadap materi pelajaran
- pengalaman mereka yang ada hubungannya dengan materi pelajaran
- keterampilan yang telah mereka peroleh
- latar belakang mereka
- harapan yang ingin didapat siswa dari mata pelajaran ini
2. Tulislah pertanyaan tersebut sehingga dapat dijawab secara kongkret.
3. Bagi siswa menjadi kelompok kecil, berilah masing-masing siswa satu pertanyaan dan minta masing-masing untuk menginterview teman satu kelompok untuk mendapatkan jawaban dari mereka.
4. Pastikan bahwa setiap siswa mempunyai pertanyaan sesuai dengan bagiannya.
Dengan demikian, jika jumlah peserta didik adalah 18, yang dibagi menjadi tiga kelompok, maka akan ada 6 orang yang mempunyai pertanyaan yang sama,
5. Mintalah masing-masing kelompok untuk menyeleksi dan meringkas data dari hasil interview yang telah dilakukan,
6. Minta masing-masing kelompok untuk melaporkan hasil dari apa yang telah mereka pelajari dari temannya ke kelas.
L. Index Card Match
Index Card Match ini adalah bentuk pembelajaran yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Artinya, siswa sudah memiliki bekal pengetahuan ketika masuk kelas.
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut.
1. Buatlah potongan kertas sejumlah siswa yang ada di kelas.
2. Bagi jumlah kertas menjadi dua bagian yang sama.
3. Setengah bagian kertas ditulis pertanyaan tentang materi dan setengah bagian kertas lainnya ditulis jawaban materi.
4. Kocok kertas hingga tercampur soal dan jawaban.
5. Beri setiap siswa satu kertas dan jelaskan bahwa kertas mereka memiliki pasangannya.
6. Mintalah setiap siswa mencari pasangannya. Jika sudah menemukan, mintalah siswa membacakan secara berpasangan.
M. The Power Of Two
Bentuk pembelajaran The Power Of Two ini digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta sinergi dua orang dengan prinsip bahwa berfikir berdua lebih baik dari pada berfikir sendiri. Langkahlangkah kegiatan pembelajarannya sebagai berikut.
1. Ajukan pertanyaan satu atau lebih yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2. Peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut secara individual.
3. Kemudian minta kepada mereka berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4. Mintalah pasangan tersebut membuat jawaban baru untuk setiap pertanyaan dan sekaligus memperbaiki jawaban individual.
5. Minta masing-masing pasangan untuk menjawab dan bandingkan jawaban setiap pasangan tersebut.
N. Bola Salju (Snowballing)
Bentuk pembelajaran ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi siswa secara bertingkat. Pembelajaran ini akan berjalan dengan baik apabila materi yang dipelajari menuntut pemikiran yang mendalam. Langkahlangkah kegiatan pembelajarannya sebagai berikut.
1. Sampaikan topik materi yang akan disampaikan.
2. Minta siswa untuk menjawab secara berpasangan.
3. Setelah pasangan tersebut mendapat jawaban, gabungkan pasangan itu dengan pasangan di sampingnya. Dengan ini terbentuk kelompok yang terdiri dari empat orang.
4. Kelompok berempat ini mengerjakan tugas yang sama dengan membandingkan jawaban masing-masing pasangan dengan pasangan lain dan mengambil sebuah kesimpulan baru.
5. Kemudian kelompok empat orang digabung dengan kelompok empat orang di sampingnya. Kelompok menjadi beranggotakan delapan orang.
6. Begitu seterusnya sesuai dengan jumlah peserta didik dan jumlah waktu yang digunakan.
7. Masing-masing kelompok diminta menyampaikan hasilnya.
O. Question Student Have
Bentuk pembelajaran Question Student Have ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan siswa sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Penerapan bentuk ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan- harapannya melalui percakapan. Langkah-langkah kegiatan pembelajarannya sebagai berikut.
1. Bagikan kartu kosong kepada setiap siswa.
2. Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau sifat pelajaran yang sedang dipelajari.
3. Putarlah kartu tersebut searah keliling jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan kepada peserta berikutnya, peserta tersebut harus membacanya dan memberikan tanda cek pada kartu tersebut jika pertanyaan yang sama yang mereka ajukan.
4. Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut. Fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak dipertanyakan. Jawaban masing-masing pertanyaan tersebut dengan cara sebagai berikut.
a. Jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani.
b. Menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat.
c. Meluruskan pertanyaan yang tidak menunjukkan suatu pertanyaan.
d. Panggil beberapa peserta berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak memperoleh suara terbanyak.
e. Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaanpertanyaan yang mungkin dijawab pada pertemuan berikutnya.
P. Resume Kelompok
Bentuk pembelajaran Resume Kelompok menggambarkan sebuah prestasi, kecakapan dan pencapaian individual. Resume Kelompok merupakan bentuk pembelajaran yang menyenangkan untuk membantu para siswa lebih mengenal atau melakukan kegiatan membangun team dari sebuah kelompok yang para anggotanya telah mengenal satu sama lain.

Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut.
1. Bagilah peserta didik ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari sekitar 3 sampai 6 anggota setiap kelompok,
2. Beritahukan kepada peserta didik di dalam kelas itu bahwa kelas tersebut berisi
sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat,
3. Sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah dengan membuat resume kelompok.
4. Berikan kepada setiap kelompok cetakan berita dan penilai untuk menunjukkan resume mereka.
5. Ajaklah masing-masing kelompok untuk menyampaikan resumenya. Resume akan memasukkan beberapa informasi yang bisa “menjual” kelompok tersebut secara keseluruhan. Data yang disertakan bisa berupa berikut.
a. Latar belakang pendidikan, sekolah-sekolah yang dimasuki.
b. Pengetahuan tentang isi pelajaran.
c. Pengalaman kerja.
d. Posisi yang pernah dipegang/keterampilan-keterampilan.
e. Hobby, bakat, perjalanan, keluarga.
f. Prestasi-prestasi.
Q. Point Counter Point
Bentuk pembelajaran Point-Counter Point ini sangat baik digunakan untuk melibatkan siswa dalam mendiskusikan isu-isu kompleks secara mendalam. Strategi ini mirip dengan debat, hanya saja dikemas dalam suasana yang tidak terlalu formal.
Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut.
1. Pilihlah isu yang mempunyai beberapa perspektif.
2. Bagilah siswa ke dalam kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah perspektif yang telah ditentukan.
3. Minta masing-masing perwakilan anggota kelompok untuk menyiapkan argumen-argumen sesuai dengan pandangan-pandangan kelompok yang diwakilinya.
4. Mulailah debat dengan mempersilahkan kelompok mana saja yang akan memulai
5. Setelah salah seorang siswa menyampaikan satu argumen sesuai dengan pandangan kelompoknya mintalah bantahan, tanggapan atau koreksi dari kelompok yang lain perihal isu yang sama.
6. Lanjutkan proses ini hingga waktu yang memungkinkan.
7. Rangkum debat yang baru saja dilaksanakan dengan menggarisbawahi atau apabila memungkinkan mencari titik temu dari argumen-argumen yang muncul.
R. Listening Teams
Bentuk pembelajaran Listening Teams ini membantu siswa untuk tetap konsentrasi dan focus dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode ceramah. Bentuk pembelajaran ini bertujuan membentuk kelompok-kelompok yang mempunyai tugas atau tanggungjawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran. Langkahlangkah kegiatannya sebagai berikut:
1. Bagilah siswa menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok mendapat salah salah satu dari tugas-tugas berikut.
a. Penanya: bertugas membuat minimal dua pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang baru saja disampaikan.
b. Pendukung: bertugas mencari ide-ide yang disetujui atau dipandang berguna dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan.
c. Penentang: bertugas mencari ide-ide yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan atas jawabannya.
d. Pemberi contoh: bertugas memberi contoh spesifik atau penerapan dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan. Sampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah. Setelah selesai, beri kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menyelesaikan tugas mereka.
2. Minta masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil dari tugas mereka.
S. Lightening The Learning Climate
Bentuk pembelajaran Lightening The Leraning Climate sangat memungkinkan suatu kelas dapat dengan cepat menemukan susasana belajar yang rileks, informal, dan tidak menakutkan dengan meminta siswa untuk membuat humor-humor kreatif yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Meskipun kegiatan pembelajaran dengan bentuk ini sangatlah informal, akan tetapi pada waktu yang sama dapat mengajak siswa untuk berfikir. Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut.
1. Jelaskan kepada siswa bahwa kegiatan pembelajaran akan dimulai dengan aktivitas pembuka yang menyenangkan sebelum masuk pada materi pelajaran yang lebih serius.
2. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil. Beri masing-masing kelompok satu tugas untuk membuat kegembiraan atau kelucuan dari topik, konsep atau isu mata pelajaran yang akan dilaksanakan, Sebagai contoh adalah sebagai berikut:
a. Mata pelajaran PPKn: buatlah satu sistem pemerintahan yang menurut peserta didik paling tidak efekif.
b. Mata pelajaran Matematika: buatlah satu cara menghitung yang tidak efisien
c. Mata pelajaran Biologi: buatlah menu makanan yang sama sekali tidak bergizi.
d. Mata pelajaran Bahasa Indonesia: : tulislah kalimat yang memuat kesalahankesalahan tata bahasa sebanyak mungkin.
3. Minta kelompok-kelompok tadi untuk mempresentasikan kreasi mereka. Hargai setiap hasil kreasi mereka.
4. Tanyakan: “Apakah yang mereka pelajari tentang materi kita dari latihan ini?”
5. Guru memberi penjelasan atau melanjutkan pelajaran dan materi lain.
T. Critical Incident
Bentuk pembelajaran Critical Incident dapat diterapkan untuk memulai kegiatan pembelajaran. Tujuan dari penggunaan bentuk ini adalah untuk melibatkan siswa sejak awal dengan melihat pengalaman mereka. Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut.
1. Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari dalam pertemuan hari itu.
2. Berilah kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat-ingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada.
3. Tanyakan pengalaman apa yang menurut mereka tidak terlupakan.
4. Sampaikan kegiatan pembelajaran dengan mengaitkan pengalaman-pengalaman siswa dengan materi yang akan dilaksanakan.
U. Prediction Guide
Bentuk pembelajaran Prediction Guide membantu siswa untuk tetap konsentrasi dan fokus dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode ceramah. Penerapan bentuk ini menuntut pembentukan kelompok-kelompok yang mempunyai tugas atau tanggung-jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran. Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut.
1. Bagi siswa menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok mendapat salah satu dari tugas-tugas berikut ini.
Penanya: bertugas membuat minimal dua pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang baru saja disampaikan Pendukung: bertugas mencari ide-ide yang disetujui atau dipandang berguna dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan.  

Penentang: bertugas mencari ide-ide yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan.
Pemberi contoh: bertugas memberi contoh spesifik atau penerapan dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan.
2. Sampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah. Setelah selesai, beri kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menyelesaikan tugas mereka.
3. Minta masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil dari tugas mereka.

V. Pembelajaran Berstrategi Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan/PBMP (Thinking Empowerment by Questioning/TEQ)
Pembelajaran berstrategi Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan/PBMP (Thinking Empowerment by Questioning/TEQ) dikembangkan oleh Corebima sejak Tahun 1985 pada pembelajaran IPA SD. Pembelajaran yang menggunakan strategi PBMP, kegiatan berfikir didorong secara maksimal. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus diyakini bahwa siswa akan terampil berpikir.
Pada pembelajaran ini tidak ada proses pembelajaran yang berlangsung secara informatif seluruhnya dilakukan melalui rangkaian atau jalinan pertanyaan yang telah dirancang secara tertulis., dari yang bersifat umum ke yang khusus atau sebaliknya (asalkan konsisten) dalam alur pikir yang logis berurutan.
Struktur lembaran yang menganut pola PBMP dapat dikembangkan sendiri oleh tiap guru sendiri-sendiri, sepanjang tetap memperhatikan dan mempertahankan karakter utama dari pola PBMP. Urut-urutan pengembangan lembaran pola PBMP meliputi tiga tahap, yaitu (1) telaah kurikulum; (2) pengembangan materi, pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran; dan (3) pengembangan lembar PBMP bagi siswa dalam pembelajaran.
1. Telaah Kurikulum
Pada tahap ini, buku kurikulum bidang studi harus benar-benar dicermati, agar perencanaan lembar PBMP dan pelaksanaan pembelajaran dengan pola PBMP selalu engacu kepada kurikulum, yaitu materi pokok, termasuk materi pembelajaran, tujuan, serta gambaran umum pembelajaran. Materi pokok maupun materi pembelajaran memberi informasi tentang ruang lingkup materi yang sesuai. Dalam hal ini, selalu diupayakan agar materi pembelajaran tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit yang melampaui kemampuan siswa. Secara operasional, ruang lingkup materi juga dapat ditemukan pada buku sumber, akan tetapi tetap berpegang kepada ruang lingkup yang tersurat dan tersirat pada kurikulum dalam hal ini Kompetensi Dasar/KD. Corebima (2001) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran dalam kurikulum harus benar-benar diperhatikan, karena tujuan yang terjabar tersebut akan menjiwai gambaran umum pelaksanaan pembelajaran.
2. Pengembangan Materi, Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran
Materi pembelajaran selalu berada dalam ruang lingkup materi pokok dan materi pembelajaran pada KD sesuai Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016. Pendekatan strategi dan metode pembelajaran (yang merupakan bagian dari pelaksanaan pembelajaran) juga harus selalu mengacu kepada tujuan pembelajaran yang terdapat KD. Materi pembelajaran ditemukan dan dikumpulkan dari buku-buku sumber seperti buku siswa, buku pedoman guru, maupun buku lain, sepanjang berada dalam ruang lingkup yang benar. Pendekatan pembelajaran Kurikulum 2013 yang dirancang untuk digunakan adalah pendekatan berbasis proses keilmuan/ilmiah/saintifik. Pendekatan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa dewasa ini pendekatan itulah yang disarankan dalam Kurikulum 2013.
Strategi yang dirancang untuk digunakan adalah PBMP sedangkan metode disesuaikan dengan karaktreristik materi, tujuan, serta sumber yang tersedia.
3. Pengembangan Lembar PBMP bagi Siswa dalam Pembelajaran
Struktur umum LKS tersebut adalah:
1. Sediakan
2. Lakukan
3. Ringkasan (Pikirkan)
4. Evaluasi
5. Arahan.
”Lakukan” meliputi kegiatan, penulisan hasil pengamatan, dan renungkan.
Bagian yang paling penting dari struktur tersebut agar LKS itu memiliki pola PBMP adalah “Renungkan” dan “Pikirkan”. Struktur LKS seperti tersebut dirancang untuk kegiatan pembelajaran yang didukung kerja kelompok dan kerja emonstratif.
Pada kegiatan pembelajaran yang tidak didukung kerja kelompok maupun kerja demonstratif, struktur LKS pola PBMP sebagai berikut.
1. Pendahuluan
2. Sediakan
3. Lakukan
4. Ringkasan (Pikirkan)
5. Evaluasi
6. Arahan.
Pada LKS yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran yang didukung kerja kelompok dan kerja demonstratif bagian LKS yang disebut sebagai “ Renungkan “ berisi kaitan antara data pengamatan dan aneka hal lain termasuk yang ada dalam masyarakat.
Substansi pada bagian “Renungkan” merupakan perluasan pikiran terhadap data amatan. “Pikirkan” berisi kesimpulan dari materi pokok atau materi pembelajaran.
Kesimpulan itu didirikan atas dasar data amatan maupun butir-butir pikiran pada bagian “Renungkan”.
Pada lembar siswa yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran yang tidak didukung kerja kelompok dan kerja demonstratif, bagian yang disebut “Renungkan” berisi kaitan antara materi pokok dan materi pembelajaran dengan aneka hal lain dalam masyarakat; termasuk di dalamnya merupakan perluasan konsep dan subkonsep. Oleh karena tidak ada kerja kelompok atau kerja demonstratif, maka pada LKS terkait tidak ada bagian kesimpulan.
Pada seluruh bagian mulai dari awal hingga akhir lembar siswa (evaluasi), tidak ada penyampaian informasi berupa kalimat informatif; seluruhnya berupa kalimat Tanya dan kalimat perintah. Kalimat perintah antara lain digunakan pada bagian cara kerja ataupun bagian lain jika diperlukan.
Beberapa karakteristik pertanyaan yang harus diperhatikan pada pengembangan lembar PBMP bagi siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.
a. Gramatika Bahasa Indonesia harus selalu dipakai dan digunakan dengan benar.
b. Pertanyaan dapat diupayakan agar dimulai dari konsep besar ke yang kecil.
c. Jalinan antar pertanyaan ditata secara logis.
d. Pertanyaan tentang hal yang sama diulang dan dirumuskan dari sudut pandang berbeda-beda.
e. Satu materi pokok dan materi pembelajaran dikaji sebanyak-banyaknya.
f. Pertanyaan lain terkait dikembangkan dan diutamakan yang terkait dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan di bagian awal tidak perlu harus langsung dijawab. Dalam hal ini jika misalnya pertanyaan no 1 tidak dapat dijawab, maka dilanjutkan dengan upaya menjawab pertanyaan no.2; dan jika pertanyaan no.2 itu juga belum dapat dijawab, maka pertanyaan no.3 akan coba dijawab dan seterusnya. Apabila pertanyaan no.5 berhasil dijawab, maka sebenarnya dalam waktu singkat pertanyaan no.4, 3, 2, dan 1 akan terjawab dengan sendirinya. Hal ini akan terjadi dengan lancar, jika jalinan antar pertanyaan ditata dengan baik dan logis, di samping memperhatikan konsistensi pola pertanyaan misalnya yang dimulai dari konsep besar ke yang kecil, serta beberapa hal teknis yang telah dikemukakan.
Sumber: Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2017. Panduan Pengembangan Pembelajaran Aktif. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar