Minggu, 13 Agustus 2017

RPP TEKS PUISI INTEGRASI PPK, LITERASI, 4C, HOTS KELAS VIII SMP


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 7



Sekolah                         :   SMP ………..

Mata Pelajaran               :   Bahasa Indonesia

Kelas/Semester              :   VIII/1

Materi Pokok                 :   Teks Puisi

Alokasi Waktu              :   8 x 40 menit  (4 pertemuan )



A.      KOMPETENSI INTI

1.   Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.

3.    Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis dan spesifik sederhana berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, dan kenegaraan terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

4.    Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif, dalam ranah konkret dan ranah abstrak sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang teori.





B.       KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI



Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kommpetensi
3.7
Mengidentifikasi unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
3.7.1

3.7.2

Menentukan unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
Menjelaskan unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
4.7
Menyimpulkan unsur-unsur pembangun dan makna teks puisi yang diperdengarkan
4.7.1


4.7.2


4.7.3


Menjawab pertanyaan tentang unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
Menyimpulkan unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
Menyimpulkan makna teks puisi yang diperdengarkan





C.      TUJUAN PEMBELAJARAN

Pertemuan Pertama

Setelah mengikuti pembelajaran tentang teks puisi, siswa diharapkan dapat:

1.         mengamati model-model teks puisi secara benar.

2.         mengidentifikasi pengertian  puisi secara benar.









Pertemuan Kedua

Setelah mengikuti pembelajaran tentang teks puisi, siswa diharapkan dapat:



1.       mengidentifikasi unsur-unsur pembentuk puisi secara benar.

2.       mendiskusikan unsur-unsur pembentuk puisi secara benar.

Pertemuan Ketiga

Setelah mengikuti pembelajaran teks puisi, siswa diharapkan dapat menentukan simpulan unsur-unsur pembangun puisi secara benar.

Pertemuan Keempat

Setelah mengikuti pembelajaran teks puisi, siswa diharapkan dapat menentukan isi  dan makna puisi secara benar



D.      MATERI PEMBELAJARAN

1.      Pengertian puisi

2.      Unsur-unsur pembangun teks puisi

3.      Makna puisi

E.       METODE/MODEL PEMBELAJARAN

-          Saintifik



F.       MEDIA/ALAT, BAHAN DAN SUMBER BELAJAR

1.      Media::

-          LCD proyektor

-       Contoh model-model teks puisi

-       Internet

-       Video pembacaan puisi

2.      Bahan :

-       Teks Puisi

3.      Sumber belajar:

Sutejo, dkk. 2014.  Buku Siswa Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian, Balitbang, Kemdikbud, Hlm, 50-51.

Sawali, dkk. 2015. Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs kelas VIII. Yogyakarta :Citra Aji Parama.

Sugeng, dkk. 1999. Bahasa Indonesia dan Sastra. Jakarta : Bumi Aksara.

Syarif, Elina,dkk. 2016. Guru Pembelajar modul Mata Pelajaran Bahasa indonesia Sekolah Menengah Pertama. Jakarta Direktorat Jenderal Guru Tenaga Kependidikan Kementerian dan kebudayaan

G.      KEGIATAN PEMBELAJARAN



Pertemuan Pertama



Langkah/
Tahap
Kegiatan Pembelajaran
Waktu
Pendahuluan
-       Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan berdoa. (PPK)
-       Guru menanyakan ketidakhadiran siswa.
-       Guru menyampaikan KD, indikator, dan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan.
-       Guru dan siswa menyepakati langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai kompetensi.
1          10’
Kegiatan Inti
-       Guru menayangkan puisi yang berjudul “
-       Siswa mencermati teks puisi melalui tayangan video.model pembacaan puisi (Literasi)
-       Siswa mencermati teks  puisi melalui tayangan video/ model pembacaan puisi
-       Siswa mengajukan pertanyaan tentang isi informasi teks puisi yang didengar dan dibaca
-       Siswa mengidentifikasi pengertian puisi

60’
Penutup
-     Guru memfasilitasi siswa menyampaikan simpulan pembelajaran (4C)
-     Guru bersama siswa melakukan evaluasi kegiatan pembelajaran khususnya kekurangan
-     Guru menyampaikan umpan balik dalam proses pembelajaran menelaah teks puisi
-     Guru menyampaikan tugas kepada siswa , yaitu memperbaiki isi informasi mengenai  pengertian puisi dan unsur-unsur pembangun puisi (HOTS)
-     Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran pertemuan berikutnya berdasarkan pengalaman yang paling mengesankan
10’





Pertemuan Kedua



Langkah/
Tahap
Kegiatan Pembelajaran
Waktu
Pendahuluan
-       Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan berdoa.
-       Guru menanyakan ketidakhadiran siswa.
-       Guru menyampaikan KD, indikator, dan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan.
-       Guru dan siswa menyepakati langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai kompetensi.
1          10’
Kegiatan Inti
-       Masih dalam kelompok yang sama siswa mendiskusikan unsur-unsur pembangun puisi
-       Siswa mempresentasikan hasil diskusinya kelompok lain menanggapinya.
60’
Penutup
-     Guru memfasilitasi siswa menyampaikan simpulan pembelajaran
-     Guru bersama siswa melakukan evaluasi kegiatan pembelajaran khususnya kekurangan
-     Guru menyampaikan umpan balik dalam proses pembelajaran menelaah teks puisi
-     Guru menyampaikan tugas kepada siswa , yaitu memperbaiki isi informasi mengenai  pengertian puisi dan unsur-unsur pembangun puisi
-     Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran pertemuan berikutnya berdasarkan pengalaman yang paling mengesankan
10’











Pertemuan Ketiga



Langkah/
Tahap
Kegiatan Pembelajaran
Waktu
Pendahuluan
-     Siswa merespon salam, berdoa bersama mengecek kebersihan  sekitar tempat duduk, dan kerapian meja kursi.
-     Guru menugasi siswa menyaksikan video pembacaan puisi / melihat model-model teks  puisi.
-     Guru mengecek penguasaan kompetensi yang sudah dipelajari  sebelumnya dengan melakukan tanya jawab
-     Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai menentukan unsur-unsur pembangunan puisi
-     Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan
-     Guru menyampaikan lingkup penilaian, yaitu pengetahuan dan keterampilan
1          10’
Kegiatan Inti
-     Dengan difasilitasi pendidik, siswa membuat kelompok sendiri atau 2-3 orang per kelompok
-     Siswa menyimpulkan unsur-unsur pembangun puisi
-     Siswa mempresentasi hasil diskusinya
60’
Penutup
-     Guru memfasilitasi siswa menyampaikan simpulan pembelajaran
-     Guru bersama siswa melakukan evaluasi kegiatan pembelajaran khususnya kekurangan
-     Guru menyampaikan umpan balik dalam proses pembelajaran menelaah teks puisi
-     Guru menyampaikan tugas kepada siswa , yaitu memperbaiki isi informasi mengenai  pengertian puisi dan unsur-unsur pembangun puisi
-     Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran pertemuan berikutnya berdasarkan pengalaman yang paling mengesankan
-     Guru dan siswa mengakhiri kegiatan belajar mengajar mengucap salam.
10’



Pertemuan Keempat



Langkah/
Tahap
Kegiatan Pembelajaran
Waktu
Pendahuluan
-     Siswa merespon salam, berdoa bersama mengecek kebersihan  sekitar tempat duduk, dan kerapian meja kursi.
-     Guru menugasi siswa menyaksikan video pembacaan puisi / melihat model-model teks  puisi.
-     Guru mengecek penguasaan kompetensi yang sudah dipelajari  sebelumnya dengan melakukan tanya jawab
-     Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai menentukan unsur-unsur pembangunan puisi
-     Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan
-     Guru menyampaikan lingkup penilaian, yaitu pengetahuan dan keterampilan
1          10’
Kegiatan Inti
-     Masih dalam kelompok yang sama siswa menyimpulkan isi  dan makna puisi
-     Siswa mempresentasi hasil diskusinya dan kelompo klain menanggapinya.
60’
Penutup
-     Guru memfasilitasi siswa menyampaikan simpulan pembelajaran
-     Guru bersama siswa melakukan evaluasi kegiatan pembelajaran khususnya kekurangan
-     Guru menyampaikan umpan balik dalam proses pembelajaran menelaah teks puisi
-     Guru menyampaikan tugas kepada siswa , yaitu memperbaiki isi informasi mengenai  pengertian puisi dan unsur-unsur pembangun puisi
-     Guru menyampaikan kegiatan pembelajaran pertemuan berikutnya berdasarkan pengalaman yang paling mengesankan
-     Guru dan siswa mengakhiri kegiatan belajar mengajar mengucap salam.
10’







H.      PENILAIAN, PEMBELAJARAN REMEDIAL, DAN PENGAYAAN

1.    Teknik Penilaian

a.         Sikap (spiritual dan sosial)

Observasi (jurnal)

b.        Pengetahuan

1)        Tes tertulis (Uraian)

2)        Penugasan (Lembar Kerja)

c.         Keterampilan :

Praktik (Penilaian Praktik)

2.   Pembelajaran Remedial

Kegiatan pembelajaran remedial antara lain dalam bentuk:

     pembelajaran ulang

     bimbingan perorangan

     belajar kelompok

     pemanfaatan tutor sebaya

bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar sesuai hasil analisis penilaian.



3.   Pembelajaran Pengayaan

Berdasarkan hasil analisis penilaian, siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran pengayaan untuk perluasan dan/atau pendalaman materi (kompetensi) antara lain dalam bentuk tugas mengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, meringkas buku-buku referensi dan mewawancarai narasumber.



        4 .   Instrumen Penilaian

       Pertemuan Pertama

               Bacaan teks puisi berikut dengan saksama kemudian kerjakan soal yang mengikutinya:

PUISI



Nyanyian Gerimi

     Karya Soni Farid Maulana






Telah kutulis jejak hujan

Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum

Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma

Yang saling memahami gairah terpendam

Dialirkan sungai ke muara



            Sesaat kita larut dalam keheningan

                        Cinta membuat kita betah hidup di bumi

Ekor cahaya berpantulan dalam matamu

            Seperti lengkung pelangi

                        Sehabis hujan menyentuh telaga



            Inikah musim semi yang sarat nyanyian

Juga tarian burung-burung itu?

               Kerinduan bagai awah gunung berapi

                        Sarat letupan. Lalu desah nafasmu

            Adalah puisi adalah gelombang lautan

                        Yang menghapus jejak hujan

Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan

            Pada kulit dan rambutmu

                        Menghapus jarak dan bahasa

                                    Antara kita berdua

                                                            1988

Kisi-kisi tes tertulis

No
Kompetensi dasar
Materi
Indikator soal
Bentuk soal
Jumlah
1
Mengidentifikasi unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
-       Penngertian puisi

-       Setelah ditampilkan pembacaan puisi, siswa mampu mengidentifikasi pengertian puisi

uraian
1
2
Mengidentifikasi unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan
-       Unsur-unsur pembangun puisi
-       Setelah ditampilkan pembacaan puisi siswa dapat menentukan unsure-unsur pembangun puisi

uraian
1



Soal

1.      Tulislah pengertian puisi!

2.      Tentukan unsur-unsur pembangun puisi di atas!



Rubrik penilaian

No
Aspek
Skor
1
-       Penngertian puisi

1
2
-       Unsur-unsur pembangun puisi
1-20



Kunci Jawaban

NO
soal
Jawaban
1
Apakah pengertian puisi
Puisi adalah suatu bentuk dalam karya sastra yang berasal dari hasil hasil suatu perasaan yang diungkapkan oleh penyair dengan bahasa yang menggunakan irama, rima, matra, bait, dan penyusunan lirik yang berisi makna
2
Jelaskan unsur-unsur Pembangun puisi
Analisis struktural meliputi struktur fisik dan struktur batin puisi. Struktur fisik terdiri dari perwajahan puisi, diksi, imaji, kata konkret, majas, rima, irama, dan suasana. Sedangkan struktur batin terdiri dari tema, rasa, nada, dan amanat.

1.      Struktur Lahir

a)      Tipografi

           Tipografi, yang dipakai pada puisi “nyanyian gerimis” sangat terlihat menonjol,  tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga puisi yang hanya memakai satu tanda tanya. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi meskipun juga bisa hanya sekadar unsur keindahan indrawi. Menggunakan baris – baris yang tak sejajar satu sama lain dan menggunakan sedikit  tanda baca, mungkin mempunyai makna yang mendalam.
           Tipografi pada puisi ini menggunakan huruf besar diawal baris dan tanda titik pada baris kedua . Terbukti pada kutipan puisi dibawah ini

Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Tanda titik pada baris kedua puisi “nyanyian gerimis”  yang dilanjutkan kata kuntum yang diawali dengan huruf besar seolah menonjolkan kata kuntum yang bermakna seorang yang kesepian yang semakin merindu.
Kemudian setelah bait pertama bentuk baris yang tidak rata seperti melengkung, dapat dilihat sebagai berikut:
Sesaat kita larut dalam keheningan
                                   Cinta membuat kita betah hidup di bumi
Ekor cahaya berpantulan dalam matamu
                       Seperti lengkung pelangi
                                   Sehabis hujan menyentuh telaga

Dari bait yang tidak rata tersebut melambangkan kata yang terdapat dalam baris itu sendiri, penyair yang menggambarkan sorot mata yang begitu indah seperti lengkungan pelangi, membuat puisi lebih hidup jika baris- baris dibuat melengkung tak beraturan.
Pada bait selanjutnya baris – baris masih tak beraturan, dapat dilihat sebagai berikut:
Inikah musim semi yang sarat nyanyian
Juga tarian burung-burung itu?
              Kerinduan bagai awah gunung berapi
                       Sarat letupan. Lalu desah nafasmu
           Adalah puisi adalah gelombang lautan
                       Yang menghapus jejak hujan

Ketidakberaturannya baris tersebut, selain sebagai keindahan indrawi namun melambangkan maksud yang disesuaikan dengan kata-kata dan isi puisi pada baris tersebut yaitu kata tarian burung, gelombang lautan sehingga tipografinya juga bergelombang dan tidak beraturan.
Selanjutnya pada empat baris terakhir, yang berbunyi sebagai berikut:
Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan
           Pada kulit dan rambutmu
                       Menghapus jarak dan bahasa
                                   Antara kita berdua

           Pada empat baris terakhir terdapat tanda titik setelah kata hatiku dan baris itu menjorok dari depan lagi, yang mempengaruhi cara membaca dan maksud penyair yang ingin menekan dan memulai lagi dari kata itu. Kemudian sampai baris terakhir sengaja dibuat baris yang tidak lurus tetapi tersusun, melambangkan penyelesaian yang selaras antara kita berdua.

b)   Diksi

Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
Diksi dalam puisi ini menggunakan kata-kata yang tidak mudah dimengerti dalam sekali baca, butuh kepekaan yang tinggi dalam menganalisis makna puisi ini. Seperti penyair memilih kata berpantulanuntuk menggambarkan pancaran yang berbinar binar. Penyair juga memilih kata tarian burung-burung, yang menggambarkan keindahan yang tak terhingga. Kemudian penyair menggunakan pilihan diksi  pantai yang indah digabungkan dengan hatiku menghasilkan makna yang indah pula.

c)    Imaji (Citraan)

Dalam puisi ini pengarang menggunakan imaji pendengaran dan perasaan juga penglihatan. Yang dapat dibuktikan sebagai berikut:
Pada bait pertama baris pertama, yang secara tidak langsung memunculkan imaji penglihatan.
Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah.
            Pada baris kelima bait pertama yang memunculkan imaji perasaan yaitu:
Yang saling memahami gairah terpendam
Begitu juga pada Cinta membuat kita betah hidup di bumi dan baris terakhir Menghapus jarak dan bahasa  Antara kita berdua yang juga merupakan imaji perasaan.    
           Kemudian pada baris Sesaat kita larut dalam keheningan dan Sarat letupan. Lalu desah nafasmu yang memunculkan citraan pendengaran.


d)   Kata konkret

Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Pada puisi “nyanyian gerimis” terdapat beberapa kata konkret sebagai berikut:
·         Kuntum Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu yang melambangkan kerinduan yang amat sangat.
·         Yang saling memahami gairah terpendam yang melambangkan seakan saling merasa kerinduan meski tak bertemu tapi seolah bertemu dalam angan
·         Sesaat kita larut dalam keheningan yang menggambarkan seorang yang membayangkan kekasihnya di suasana sepi dan sunyi.
·         Ekor cahaya berpantulan dalam matamu melambangkan mata sang kekasih yang berbinar-binar penuh bahagia.
·         Kerinduan bagai awah gunung berapi  melambangkan kerinduan yang amat sangat dan meluap-luap.


e)  Sarana Retorik / Majas
           Dalam puisi “Nyanyian Gerimis” penyair menggunakan gaya bahasa personifikasi, metaforan dan hiperbola dan simile, yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
·      Personifikasi     :Telah kutulis jejak hujan
                        kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu
                        Dipetik hangat percakapan
                        menghapus jejak hujan

·         Metafora         :Ekor cahaya berpantulan 

·         Simile              :Seperti lengkung pelangi          
Kerinduan bagai awah gunung berapi



f)    Rima dan irama

Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Sedangkan irama adalah lagu kalimat yang digunakan penyair dalam mengapresiasikan puisinya.
Rima dalam puisi “Nyanyian Gerimis” tidak terlalu diatur karena lebih mementingkan isi, rima pada bait pertama yaitu : a-u-u-a-a-a
Telah kutulis jejak hujan (a)
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum (u)
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu (u)
Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma (a)
Yang saling memahami gairah terpendam (a)
Dialirkan sungai ke muara (a)

Kemudian pada bait kedua rima juga tidak beraturan, yaitu: a-i-u-i-a
          
Sesaat kita larut dalam keheningan (a)
                       Cinta membuat kita betah hidup di bumi (i)
Ekor cahaya berpantulan dalam matamu (u)
           Seperti lengkung pelangi (i)
                       Sehabis hujan menyentuh telaga (a)

Pada bait terakhir rima juga tak beraturan dan baitpun tidak jelas jumlah barisnya, rima pada bait terakhir yaitu: a- u-i-u-a-a-a-u-a-a

Inikah musim semi yang sarat nyanyian (a)
Juga tarian burung-burung itu?(u)
              Kerinduan bagai awah gunung berapi(i)
                       Sarat letupan. Lalu desah nafasmu (u)
           Adalah puisi adalah gelombang lautan (a)
                       Yang menghapus jejak hujan (a)
Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan(a)
           Pada kulit dan rambutmu (u)
                       Menghapus jarak dan bahasa (a)
                                   Antara kita berdua (a)
          
Irama pada Puisi “Nyanyian Gerimis” memiliki irama perlahandan syahdu penuh penghayatan.

g). Enjambemen
Dalam puisi “Nyanyian Gerimis” terdapat beberapa enjambemen diantaranya dapat diamati sebagai berikut:
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Jika kita perhatikan artinya kata Kuntum merupakan bagian dari baris selanjutnya, jika dilihat dari tanda bacanya juga kata Kuntummerupakan bagian dari baris selanjutnya. Sehingga kalau kita susun menurut aturan yang umum ,baris  tersebut  mestinya sebagai berikut.
Pada rambut dan kulitmu yang basah.
Kuntum demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Tetapi penulisan tersebut bukan tanpa kesengajaan ada maksud tertentu penyair menulis dengan bentuk demikian. Yang dilakukan penulis tersebut bukan sekedar iseng ataupun hanya memperindah wajah puisi belaka. Namun ada maksud tersendiri dari penyair. Kata kuntum yang pertama sengaja dipisahkan dengan kata setelahnya untuk menekan kata tersebut yang sekaligus menekan arti kata kuntum seperti seorang wanita, yang tidak bisa di dapat jika kuntum yang pertama digabungkan.
Enjambemen juga terdapat pada baris empat dan lima yang  dapat diamati sebagai berikut:
Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma
Yang saling memahami gairah terpendam

Jika kita perhatikan baris ke empat dan lima tersebut maka sebenarnya susunan yang benar sesuai kaidah  adalah sebagai berikut:
Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma yang saling memahami gairah terpendam

Penyairpun ada maksud tertentu membuat sususnan baris menjadi seperti itu. Perasaan yang timbul jika penulisan baris keempat dan lima digabungkan selain terlalu panjang juga menimbulkan arti yang datar.

Kemudian pada bait kedua baris terakhir juga terdapat ada enjambemen yang dapat di bandingkan sebagai berikut:
Seperti lengkung pelangi
                       Sehabis hujan menyentuh telaga
Penulisan sebenarnya adalah sebagai berikut:
Seperti lengkung pelangi sehabis hujan menyentuh telaga
Namun jika penyair menuliskan puisi seperti bentuk kedua tentu tidak akan terjadi penekanan makna. Puisi akan terasa datar dan pembaca kurang bisa mengambil makna yang ditonjolkan.
Kemudian enjambemen juga terdapat pada bagian akhir yaitu:
                       Menghapus jarak dan bahasa
                                   Antara kita berdua
Jika ditulis sesuai  aturan yang sebenarnya adalah sebagai berikut:
Menghapus jarak dan bahasa Antara kita berdua
Namun penulisan tersebut akan mengurangi makna antara kita berdua, sehingga penyair sengaja memisahkan baris tersebut supaya makananya lebih menonjol.





2.      Struktur batin

a)      Tema
Dalam puisi ini penyair mengangkat tema tentang kerinduan kepada kekasih. Terbukti pada baris-barispuisi berikut ini:
Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu
Kemudian dikuatkan lagu lewat baris puisi berikut:
Kerinduan bagai awah gunung berapi
                        Sarat letupan.
Karena kerinduan yang amat sangat kepada sang kekasih sehingga penyair membayangkan kekasihnya di kala hujan gerimis.

b)      Nada dan Suasana

Ketika kita baca judul puisi “nyanyian gerimis” kemudian pada kata Kuntum Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu,  terasa sekali suasana puisi tersebut yaitu keadaan kesepian dikala hujan menunggu membayangkan wajah kekasih, di tambah dengan kata kata  Kerinduan bagai awah gunung berapi Sarat letupan mempertegas betapa suasana merindu sang penyair yang terpisah oleh jarak.
           Nada puisi “Nyanyian gerimis” juga sudah dapat dilihat dari suasana puisi sehingga kata pertama puisi
Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu
semakin terlihat nada puisi tersebut dinyatakan oleh penyairnya dengan eksplisit. Karena pembaca dapat membayangkan langsung nada dan suasana puisi tersebut yaitu orang yang kesepian tanpa kekasih hati. Sehingga nadanya juga mengikuti tema dan suasana yaitu pelan dan tidak berapi api namun santai dan menenangkan.




c)      Amanat

Penyair mengungkapkan rasa kesepiannya dan kerinduannya dengan menghayalkan datangnya kekasih yang menghibur hati. Sehingga penyair semakin yakin akan cintanya yang terpisah oleh jarak dan waktu. Yang memberikan amanat kita harus saling percaya dan terus setia pada kekasih hati meskipun jauh dimata namun selalu dekat dihati kita. Asalkan kita menjaganya.

3.      Kaitan Unsur Satu dengan Unsur yang lain
Dengan tema puisi “Nyanyian Gerimis” yaitu kerinduan kepada kekasih. Yang memiliki arti seorang yang begitu merindukan kekasih hatinya datang sehingga ia membayangkan akan hadirnya, membayangkan parasnya dan saling bertatap muka, meskipun sebenarnya hanya dalam kesunyian saat gerimis tiba.
Puisi ini memiliki suasana yang tenang dan penuh penantian, itu menyebabkan nada yang juga perlahan dan dinikmati kian dalam. Suasana hati penuh khayalan karena kerinduan yang kian memuncak.
Tipografi pada puisi ini menggunakan baris yang tidak beraturan dan sedikit menggunakan tanda baca. Terbukti pada kutipan puisi dibawah ini
Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
.......................
Inikah musim semi yang sarat nyanyian
Juga tarian burung-burung itu?
              Kerinduan bagai awah gunung berapi
                       Sarat letupan. Lalu desah nafasmu
           Adalah puisi adalah gelombang lautan
                       Yang menghapus jejak hujan
Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan
           Pada kulit dan rambutmu
                       Menghapus jarak dan bahasa
                                   Antara kita berdu
Dilihat dari tipografi diatas dapat diamati bahwa baris demi baris disusun tidak sejajar dan terlihat acak yang juga berkaitan dengan enjambemen. Hal ini bukan sekadar untuk keindahan indrawi namun juga untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa. Atau suasana puisi yang bersangkutan.
Kemudian diksi yang digunakan juga mempengaruhi suasana puisi tersebut, karena diksi yang dipakai cenderung romantis maka suasana yang dihasilkan juga romantis dan kesetiaan. Kemudian dari pilihan diksi yang dipilih penyair juga menimbulkan citraan tertentu atau pengimajian. Demikian beberapa unsur puisi yang salaing berkaitan satu sama lain.
Selanjutnya tema juga berelasi dengan amanat, dengan temakerinduan kepada kekasih maka amanatnyapun mengenai sikap bagaimana menghadapi kerinduan pada kekasih.





Pertemuan kedua

Soal

       Bacaan teks puisi berikut dengan saksama kemudian kerjakan soal yang mengikutinya:

  PUISI



Nyanyian Gerimis

     Karya Soni Farid Maulana






Telah kutulis jejak hujan

Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum

Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma

Yang saling memahami gairah terpendam

Dialirkan sungai ke muara



            Sesaat kita larut dalam keheningan

                        Cinta membuat kita betah hidup di bumi

Ekor cahaya berpantulan dalam matamu

            Seperti lengkung pelangi

                        Sehabis hujan menyentuh telaga



            Inikah musim semi yang sarat nyanyian

Juga tarian burung-burung itu?

               Kerinduan bagai awah gunung berapi

                        Sarat letupan. Lalu desah nafasmu

            Adalah puisi adalah gelombang lautan

                        Yang menghapus jejak hujan

Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan

            Pada kulit dan rambutmu

                        Menghapus jarak dan bahasa

                                    Antara kita berdua

                                                            1988

Kisi-kisi

No
Kompetensi dasar
Materi
Indikator soal
Bentuk soal
Jumlah
1
Menyimpulkan unsur-unsur pembangun
Menyimpulkan unsur-unsur pembangun puisi
Setelah pendengarkan pembacaan puisi, siswa mampu menyimpulkan unsur-unsur pembangun puisi
uraian
1
2
makna teks puisi yang diperdengarkan
Makna puisi
Setelah pendengarkan pembacaan puisi, siswa mampu menentukan makna puisi
uraian
1



Soal

1.      Jelaskan kesimpulan  unsur-unsur intrinsik puisi di atas!

2.      Jelaskan makna yang terkandung dari puisi di atas

 Rublik penilaian

No
Aspek yang dinilai
skor
1
Menyimpulkan unsur-unsur pembangun puisi
0-20
2
Makna puisi
0-20



Kunci Penilaian

No
Soal
Jawaban
1
Jelaskan kesimpulan puisi di atas!

Kesimpulan intrinsik puisi
1.      Struktur Lahir
a)      Tipografi
           Tipografi, yang dipakai pada puisi “nyanyian gerimis” sangat terlihat menonjol,  tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga puisi yang hanya memakai satu tanda tanya. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi meskipun juga bisa hanya sekadar unsur keindahan indrawi. Menggunakan baris – baris yang tak sejajar satu sama lain dan menggunakan sedikit  tanda baca, mungkin mempunyai makna yang mendalam.
           Tipografi pada puisi ini menggunakan huruf besar diawal baris dan tanda titik pada baris kedua . Terbukti pada kutipan puisi dibawah ini

Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Tanda titik pada baris kedua puisi “nyanyian gerimis”  yang dilanjutkan kata kuntum yang diawali dengan huruf besar seolah menonjolkan kata kuntum yang bermakna seorang yang kesepian yang semakin merindu.
Kemudian setelah bait pertama bentuk baris yang tidak rata seperti melengkung, dapat dilihat sebagai berikut:
Sesaat kita larut dalam keheningan
                                   Cinta membuat kita betah hidup di bumi
Ekor cahaya berpantulan dalam matamu
                       Seperti lengkung pelangi
                                   Sehabis hujan menyentuh telaga

Dari bait yang tidak rata tersebut melambangkan kata yang terdapat dalam baris itu sendiri, penyair yang menggambarkan sorot mata yang begitu indah seperti lengkungan pelangi, membuat puisi lebih hidup jika baris- baris dibuat melengkung tak beraturan.
Pada bait selanjutnya baris – baris masih tak beraturan, dapat dilihat sebagai berikut:
Inikah musim semi yang sarat nyanyian
Juga tarian burung-burung itu?
              Kerinduan bagai awah gunung berapi
                       Sarat letupan. Lalu desah nafasmu
           Adalah puisi adalah gelombang lautan
                       Yang menghapus jejak hujan

Ketidakberaturannya baris tersebut, selain sebagai keindahan indrawi namun melambangkan maksud yang disesuaikan dengan kata-kata dan isi puisi pada baris tersebut yaitu kata tarian burung, gelombang lautan sehingga tipografinya juga bergelombang dan tidak beraturan.
Selanjutnya pada empat baris terakhir, yang berbunyi sebagai berikut:
Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan
           Pada kulit dan rambutmu
                       Menghapus jarak dan bahasa
                                   Antara kita berdua

           Pada empat baris terakhir terdapat tanda titik setelah kata hatiku dan baris itu menjorok dari depan lagi, yang mempengaruhi cara membaca dan maksud penyair yang ingin menekan dan memulai lagi dari kata itu. Kemudian sampai baris terakhir sengaja dibuat baris yang tidak lurus tetapi tersusun, melambangkan penyelesaian yang selaras antara kita berdua.

b)   Diksi

Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
Diksi dalam puisi ini menggunakan kata-kata yang tidak mudah dimengerti dalam sekali baca, butuh kepekaan yang tinggi dalam menganalisis makna puisi ini. Seperti penyair memilih kata berpantulanuntuk menggambarkan pancaran yang berbinar binar. Penyair juga memilih kata tarian burung-burung, yang menggambarkan keindahan yang tak terhingga. Kemudian penyair menggunakan pilihan diksi  pantai yang indah digabungkan dengan hatiku menghasilkan makna yang indah pula.

c)    Imaji (Citraan)

Dalam puisi ini pengarang menggunakan imaji pendengaran dan perasaan juga penglihatan. Yang dapat dibuktikan sebagai berikut:
Pada bait pertama baris pertama, yang secara tidak langsung memunculkan imaji penglihatan.
Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah.
            Pada baris kelima bait pertama yang memunculkan imaji perasaan yaitu:
Yang saling memahami gairah terpendam
Begitu juga pada Cinta membuat kita betah hidup di bumi dan baris terakhir Menghapus jarak dan bahasa  Antara kita berdua yang juga merupakan imaji perasaan.    
           Kemudian pada baris Sesaat kita larut dalam keheningan dan Sarat letupan. Lalu desah nafasmu yang memunculkan citraan pendengaran.


d)   Kata konkret

Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Pada puisi “nyanyian gerimis” terdapat beberapa kata konkret sebagai berikut:
·         Kuntum Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu yang melambangkan kerinduan yang amat sangat.
·         Yang saling memahami gairah terpendam yang melambangkan seakan saling merasa kerinduan meski tak bertemu tapi seolah bertemu dalam angan
·         Sesaat kita larut dalam keheningan yang menggambarkan seorang yang membayangkan kekasihnya di suasana sepi dan sunyi.
·         Ekor cahaya berpantulan dalam matamu melambangkan mata sang kekasih yang berbinar-binar penuh bahagia.
·         Kerinduan bagai awah gunung berapi  melambangkan kerinduan yang amat sangat dan meluap-luap.


e)  Sarana Retorik / Majas
           Dalam puisi “Nyanyian Gerimis” penyair menggunakan gaya bahasa personifikasi, metaforan dan hiperbola dan simile, yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
·      Personifikasi     :Telah kutulis jejak hujan
                        kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu
                        Dipetik hangat percakapan
                        menghapus jejak hujan

·         Metafora         :Ekor cahaya berpantulan 

·         Simile              :Seperti lengkung pelangi          
Kerinduan bagai awah gunung berapi



f)    Rima dan irama

Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Sedangkan irama adalah lagu kalimat yang digunakan penyair dalam mengapresiasikan puisinya.
Rima dalam puisi “Nyanyian Gerimis” tidak terlalu diatur karena lebih mementingkan isi, rima pada bait pertama yaitu : a-u-u-a-a-a
Telah kutulis jejak hujan (a)
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum (u)
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu (u)
Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma (a)
Yang saling memahami gairah terpendam (a)
Dialirkan sungai ke muara (a)

Kemudian pada bait kedua rima juga tidak beraturan, yaitu: a-i-u-i-a
          
Sesaat kita larut dalam keheningan (a)
                       Cinta membuat kita betah hidup di bumi (i)
Ekor cahaya berpantulan dalam matamu (u)
           Seperti lengkung pelangi (i)
                       Sehabis hujan menyentuh telaga (a)

Pada bait terakhir rima juga tak beraturan dan baitpun tidak jelas jumlah barisnya, rima pada bait terakhir yaitu: a- u-i-u-a-a-a-u-a-a

Inikah musim semi yang sarat nyanyian (a)
Juga tarian burung-burung itu?(u)
              Kerinduan bagai awah gunung berapi(i)
                       Sarat letupan. Lalu desah nafasmu (u)
           Adalah puisi adalah gelombang lautan (a)
                       Yang menghapus jejak hujan (a)
Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan(a)
           Pada kulit dan rambutmu (u)
                       Menghapus jarak dan bahasa (a)
                                   Antara kita berdua (a)
          
Irama pada Puisi “Nyanyian Gerimis” memiliki irama perlahandan syahdu penuh penghayatan.

g). Enjambemen
Dalam puisi “Nyanyian Gerimis” terdapat beberapa enjambemen diantaranya dapat diamati sebagai berikut:
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Jika kita perhatikan artinya kata Kuntum merupakan bagian dari baris selanjutnya, jika dilihat dari tanda bacanya juga kata Kuntummerupakan bagian dari baris selanjutnya. Sehingga kalau kita susun menurut aturan yang umum ,baris  tersebut  mestinya sebagai berikut.
Pada rambut dan kulitmu yang basah.
Kuntum demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu

Tetapi penulisan tersebut bukan tanpa kesengajaan ada maksud tertentu penyair menulis dengan bentuk demikian. Yang dilakukan penulis tersebut bukan sekedar iseng ataupun hanya memperindah wajah puisi belaka. Namun ada maksud tersendiri dari penyair. Kata kuntum yang pertama sengaja dipisahkan dengan kata setelahnya untuk menekan kata tersebut yang sekaligus menekan arti kata kuntum seperti seorang wanita, yang tidak bisa di dapat jika kuntum yang pertama digabungkan.
Enjambemen juga terdapat pada baris empat dan lima yang  dapat diamati sebagai berikut:
Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma
Yang saling memahami gairah terpendam

Jika kita perhatikan baris ke empat dan lima tersebut maka sebenarnya susunan yang benar sesuai kaidah  adalah sebagai berikut:
Dipetik hangat percakapan juga gerak sukma yang saling memahami gairah terpendam

Penyairpun ada maksud tertentu membuat sususnan baris menjadi seperti itu. Perasaan yang timbul jika penulisan baris keempat dan lima digabungkan selain terlalu panjang juga menimbulkan arti yang datar.

Kemudian pada bait kedua baris terakhir juga terdapat ada enjambemen yang dapat di bandingkan sebagai berikut:
Seperti lengkung pelangi
                       Sehabis hujan menyentuh telaga
Penulisan sebenarnya adalah sebagai berikut:
Seperti lengkung pelangi sehabis hujan menyentuh telaga
Namun jika penyair menuliskan puisi seperti bentuk kedua tentu tidak akan terjadi penekanan makna. Puisi akan terasa datar dan pembaca kurang bisa mengambil makna yang ditonjolkan.
Kemudian enjambemen juga terdapat pada bagian akhir yaitu:
                       Menghapus jarak dan bahasa
                                   Antara kita berdua
Jika ditulis sesuai  aturan yang sebenarnya adalah sebagai berikut:
Menghapus jarak dan bahasa Antara kita berdua
Namun penulisan tersebut akan mengurangi makna antara kita berdua, sehingga penyair sengaja memisahkan baris tersebut supaya makananya lebih menonjol.
2.      Struktur batin

a)      Tema
Dalam puisi ini penyair mengangkat tema tentang kerinduan kepada kekasih. Terbukti pada baris-barispuisi berikut ini:
Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu
Kemudian dikuatkan lagu lewat baris puisi berikut:
Kerinduan bagai awah gunung berapi
                        Sarat letupan.
Karena kerinduan yang amat sangat kepada sang kekasih sehingga penyair membayangkan kekasihnya di kala hujan gerimis.

b)      Nada dan Suasana

Ketika kita baca judul puisi “nyanyian gerimis” kemudian pada kata Kuntum Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu,  terasa sekali suasana puisi tersebut yaitu keadaan kesepian dikala hujan menunggu membayangkan wajah kekasih, di tambah dengan kata kata  Kerinduan bagai awah gunung berapi Sarat letupan mempertegas betapa suasana merindu sang penyair yang terpisah oleh jarak.
           Nada puisi “Nyanyian gerimis” juga sudah dapat dilihat dari suasana puisi sehingga kata pertama puisi
Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
Demi kuntum kesepian yang mekar seluas kalbu
semakin terlihat nada puisi tersebut dinyatakan oleh penyairnya dengan eksplisit. Karena pembaca dapat membayangkan langsung nada dan suasana puisi tersebut yaitu orang yang kesepian tanpa kekasih hati. Sehingga nadanya juga mengikuti tema dan suasana yaitu pelan dan tidak berapi api namun santai dan menenangkan.
c)      Amanat

Penyair mengungkapkan rasa kesepiannya dan kerinduannya dengan menghayalkan datangnya kekasih yang menghibur hati. Sehingga penyair semakin yakin akan cintanya yang terpisah oleh jarak dan waktu. Yang memberikan amanat kita harus saling percaya dan terus setia pada kekasih hati meskipun jauh dimata namun selalu dekat dihati kita. Asalkan kita menjaganya.

3.      Kaitan Unsur Satu dengan Unsur yang lain
Dengan tema puisi “Nyanyian Gerimis” yaitu kerinduan kepada kekasih. Yang memiliki arti seorang yang begitu merindukan kekasih hatinya datang sehingga ia membayangkan akan hadirnya, membayangkan parasnya dan saling bertatap muka, meskipun sebenarnya hanya dalam kesunyian saat gerimis tiba.
Puisi ini memiliki suasana yang tenang dan penuh penantian, itu menyebabkan nada yang juga perlahan dan dinikmati kian dalam. Suasana hati penuh khayalan karena kerinduan yang kian memuncak.
Tipografi pada puisi ini menggunakan baris yang tidak beraturan dan sedikit menggunakan tanda baca. Terbukti pada kutipan puisi dibawah ini
Telah kutulis jejak hujan
Pada rambut dan kulitmu yang basah. Kuntum
.......................
Inikah musim semi yang sarat nyanyian
Juga tarian burung-burung itu?
              Kerinduan bagai awah gunung berapi
                       Sarat letupan. Lalu desah nafasmu
           Adalah puisi adalah gelombang lautan
                       Yang menghapus jejak hujan
Di pantai hatiku. Begitulah jejak hujan
           Pada kulit dan rambutmu
                       Menghapus jarak dan bahasa
                                   Antara kita berdu
Dilihat dari tipografi diatas dapat diamati bahwa baris demi baris disusun tidak sejajar dan terlihat acak yang juga berkaitan dengan enjambemen. Hal ini bukan sekadar untuk keindahan indrawi namun juga untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa. Atau suasana puisi yang bersangkutan.
Kemudian diksi yang digunakan juga mempengaruhi suasana puisi tersebut, karena diksi yang dipakai cenderung romantis maka suasana yang dihasilkan juga romantis dan kesetiaan. Kemudian dari pilihan diksi yang dipilih penyair juga menimbulkan citraan tertentu atau pengimajian. Demikian beberapa unsur puisi yang salaing berkaitan satu sama lain.
Selanjutnya tema juga berelasi dengan amanat, dengan temakerinduan kepada kekasih maka amanatnyapun mengenai sikap bagaimana menghadapi kerinduan pada kekasih.

2
Makna puisi
Usaha aku yang mengagumi gadis yang dilambangkan sekuntum bunga. Aku merasa jatuh cinta dan membayangkan setiap keindahan yang terjadi. Rasa rindu yang mendalam membuat aku tidak ingin meninggalkan gadis yang dicintainya



                                                                        ………………, 15 Juli 2017

Mengetahui,

Kepala,                                                           Guru,







………………………….                                  …………………………

NIP …….                                                        NIP  …………………….




Tidak ada komentar:

Posting Komentar